:

DAMPAK KENAIKAN BBM TERHADAP PETANI

Pateni sedang cocok tanamPemerintah akhirnya menaikkan harga BBM rata-rata 28,7%. Apa pengaruhnya bagi petani kita? Secara langsung akan ada kenaikan biaya produksi yang menggunakan BBM seperti biaya pengolahan tanah yang menggunakan traktor tangan.
Biaya pengolahan tanah (membajak dan menggaru) saat ini berkisar Rp 500.000–600.000/ha. Sebuah traktor tangan berkekuatan 8.5 PK membutuhkan solar sebanyak lebih kurang 18 liter per hektare untuk pengolahan lahan sampai siap tanam dan memerlukan waktu 20 jam (Puslitbangsosek, Deptan, 1995).
Jadi dengan harga solar Rp 4.300-4.500/ltr, dibutuhkan biaya Rp 77.400–81.000/ha dan jika naik menjadi Rp.5.500/ltr, dibutuhkan Rp 99.000/ha. Kenaikannya paling tinggi Rp 21.600/ha.
Kemudian penggunaan lainnya yang biasa dilakukan adalah untuk pengolahan pascapanen, seperti pada perontokan padi yang menggunakan power tresher (mesin perontok). Penggunaan mesin perontok biasanya satu paket dengan sistem upah panen yang umumnya menggunakan sistem persentase. Jika petani menjual padinya dengan sistem borong (tebasan), maka biaya panen ditanggung oleh pemborong.
Sebagian petani di Indonesia juga menggunakan pompa air untuk mengairi sawahnya. Di Pulau Jawa terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pompa air banyak digunakan karena air irigasi tidak mencukupi, sumber air bisa dari air permukaan (sungai) atau air tanah.
Pompa air berukuran 3 inchi dengan tenaga penggerak 8.5 PK membutuhkan solar sebanyak 60-65 ltr/ha pada musim hujan (MH) dan 110-115 ltr/ha pada musim kemarau (MK). Jadi biaya pengeluaran BBM untuk saat ini Rp 258.000–279.500 pada MH dan Rp 473.000–494.500/ha pada MK akan naik jika harga solar Rp 5.500/ltr menjadi Rp 330.000–357.500 pada MH dan Rp 605.000–632.500/ha pada MK. Upah pompa air saat ini ± Rp 8.000/jam.

Tenaga Kerja
Biaya pengolahan gabah menjadi beras juga akan naik seperti pada penggilingan padi atau RMU (Rice Milling Unit) dan huller. Mesin pembersih dan penyosoh pada RMU membutuhkan solar ± 35 ltr/hari/9 jam operasi.
Kapasitas mesin RMU ± 3 ton beras/hari, tapi pada musim panen RMU hanya mampu mengolah beras 2,2 ton beras/hari. (Dari kajian penulis tahun 2007 terhadap 50 sampel RMU di Sumsel). Sistem upah pada RMU adalah sistem persentase berkisar 6–10% dari hasil beras. Jadi bagi petani pengaruhnya kecil karena sekalipun BBM naik, upah giling tetap dalam bentuk natura dan peluang harga jual beras menaik sangat besar saat ini.
Sebagai perbandingan dari hasil kajian penulis terhadap 190 responden tahun 2006 di Provinsi Sumsel tingkat konsumsi solar rata-rata rumah tangga petani adalah 86 liter dengan biaya Rp 406.715/tahun.
Solar sebanyak 57% digunakan untuk pertanian, 34% untuk penerangan (genset), dan 9% untuk transportasi. Demikian juga untuk bensin, tingkat konsumsi rata-rata sebesar 131,5 liter/keluarga/tahun dengan total pengeluaran Rp 625.668 dimana 80% digunakan untuk transportasi (sepeda motor, perahu motor, dan mobil), 17% untuk penerangan (genset), dan 3% untuk pertanian dan lainnya.
Pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, biaya transportasi juga akan naik dengan naiknya harga BBM. Harga pupuk seperti, SP-36, KCL, herbisida, pestisida sudah melambung naik yang salah satu faktornya adalah naiknya biaya produksi dari BBM dan transportasi pupuk dan pestisida dan herbisida dari pabrik ke konsumen. Selama ini, harga BBM industri sudah tidak disubsidi lagi. Harga KCL misalnya sudah mencapai Rp 8.000/kg, SP-36 Rp 4.000/kg, pestisida naik 10–20%, herbisida naik 20–100%.
Biaya yang terbesar pada usaha tani padi adalah biaya tenaga kerja yang porsinya mencapai 60%. Upah tenaga kerja saat ini berkisar Rp 25.000–30.000/hari. Jika upah tenaga kerja naik 20% maka akan menambah biaya secara nyata pada usaha tani padi.
Petani dapat menyiasatinya ini dengan lebih banyak menggunakan tenaga kerja keluarga. Penggunaan herbisida sangat banyak membantu petani dalam pembasmian gulma. sistem tanam dan panen dengan gotong royong atau sambatan (dalam bahasa Jawa) perlu dihidupkan kembali. sistem ini sudah lama hilang dan diganti dengan sistem upah harian atau borongan.

Minyak Tanah
Jadi dampak kenaikan BBM terhadap terhadap biaya produksi usaha tani sebenarnya tidak terlalu besar, karena biaya untuk BBM berkisar 15–20% dari biaya produksi. Justru yang memberikan efek negatif adalah kenaikan terhadap sektor-sektor lain seperti transportasi, bahan makanan pokok, upah tenaga kerja, dsb.
Tapi kepanikan akan naiknya BBM ini di pedesaan tidaklah sebesar masyarakat perkotaan, para petani yang merasa ongkos transportasi mahal cukup bepergian sekali seminggu pada waktu hari pasar/pekan, kemudian petani dapat menghemat pengeluarannya untuk makanan pokok dari hasil panen yang dihasilkan.
Yang membuat keluhan paling besar petani saat ini adalah kelangkaan minyak tanah, harga minyak tanah berkisar Rp 4.000–4.500/liter dan kadang sulit didapat, dan itu pun dijatah 3 liter. Masyarakat perdesaan ini tidak ikut dalam program konversi minyak tanah ke gas.
Dari kajian penulis di Provinsi Sumsel tahun 2006 tingkat konsumsi minyak tanah di pedesaan adalah 255 liter/keluarga/tahun dengan biaya Rp 774.005/tahun. Minyak tanah ini sebanyak 56% untuk memasak, 42% untuk penerangan (lampu stromking dan senter), dan 2% untuk lainnya seperti usaha tani.

Jadi kalau minyak tanah langka di pedesaan bukan hanya kesulitan untuk memasak tapi juga untuk penerangan. Harus kita ingat belum semua desa kita berlistrik, sepertiga desa di Indonesia belum menikmati listrik.

Dari hasil survei diketahui bahwa 97% responden menyatakan kenaikan BBM berdampak negatif bagi kehidupan mereka, dimana 92% responden menyatakan minyak tanah yang paling memberikan dampak negatif.

Nah, berapa pengeluaran rumah tangga petani untuk BBM termasuk listrik dan kayu bakar per tahunnya? Jawabannya Rp 2,03 juta yang merupakan 18,6% dari total pengeluaran rumah tangga petani. Setidak-tidaknya ini bisa memberikan gambaran kebutuhan BBM dan energi di pedesaan dan sejauh mana dampaknya


  1. Pemerintah kok kurang persiapany ya dalam menjalankan kebijakannya.
    Jika ada persiapan yang matang saya kira dampak Kenaikan BBM tidak begitu parah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.